RSS

Duuhh...sakiitttt

Udah 2 hari ini, salah satu bagian badanku sakit, nyeri, dan sedikit membengkak. "Duh..ini gara-gara suntik TT kemaren tuh, jangan-jangan bidannya salah suntik, atau malah, engga bisa nyuntik, jadinya bengkak gini, Pi..kenapa sih ini, mau ke dokter lagi aja deh, aku takut dedenya kenapa-kenapa juga". Jujur..semua hal tersebut berkecamuk di otakku, sampe- engga bisa tidur, karena sakit banget. Paginya suamiku, membangunkan aku, sembari nunjukin postingan di internet, "nih...baca dong mi....efek samping suntik TT, biasanya demam ringan, agak nyeri, dan sedikit bengkak pada daerah sekitar suntikan".....Aaaahh masa sihhh sampe begitu, aku googling lagi deh, sampe telat ngantor gara-gara suntik TT. Ternyata bener juga, mungkin ini adalah efek samping dari suntik TT itu, lumayan agak lega, tapi sebenernya masi dongkol juga, beneran sampe begini ga siihhh....

Akhirnya saking penasaran, sampe kantor, aku masih sempetin waktu buat nyari-nyari di internet tentang segala kemungkinan dari suntik TT. Masih belom yakin 100 persen juga niih..padahal semua berita ini, menjawab bahwa memang apa yang aku alamin itu adalah salah satu efek dari suntikan ini. Duhh...Aku percaya Allah aja deh, abisnya engga yakin gitu.....

Buat bumil yang sempet mengalami kejadian yang sama, ini aku lampirkan pemberitaan tentang suntik TT dari NAKITA, semoga membantu.



IBU HAMIL JUGA PERLU IMUNISASI

Pertimbangkan risiko dan manfaatnya.

Vaksinasi untuk menimbulkan kekebalan tak hanya berlaku saat usia bayi dan anak. Orang dewasa pun memerlukannya untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga dapat terhindar dari penyakit-penyakit infeksi yang serius. Begitu pula dengan perempuan yang berencana punya anak ataupun ibu hamil.

Amankah vaksinasi bagi ibu hamil? Pada prinsipnya, semua vaksin yang diberikan ke dalam tubuh sudah melalui uji keamanan dalam waktu lama. Selain itu, badan obat dan makanan Amerika (FDA/Food and Drug Administration) serta Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC/Centers for Disease Control and Prevention) juga selalu mengontrol keamanan penggunaan vaksin yang ada. Walaupun begitu, khusus untuk ibu hamil, tidak semua vaksin boleh diberikan. Hanya vaksin yang tidak mengandung virus aktif/dilemahkan saja yang boleh diberikan kepada ibu hamil. Saat hamil, daya tahan ibu sedang turun sehingga pemberian vaksin hidup dikhawatirkan dapat membahayakan janinnya.

Nah, apa saja vaksin yang boleh dan tak boleh diberikan kepada ibu hamil? Dr. Didi Danukusumo, Sp.OG., dari RS Wanita YADIKA Jakarta, mengulasnya untuk Anda!

VAKSIN YANG BOLEH

Vaksin yang mengandung bahan virus atau bakteri yang tidak aktif terbukti tak berisiko pada janin. Berikut beberapa vaksin yang boleh diberikan kepada ibu hamil:

* Tetanus Toksoid (TT)

Imunisasi ini sudah rutin dilakukan pada ibu hamil. Kandungan vaksinnya dari bahan yang menyerupai sejenis racun yaitu toksoid. Vaksin tetanus terbukti aman bagi ibu hamil dan tak berbahaya untuk janin.

Manfaat:

Mencegah penyakit tetanus. Bakteri tetanus bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka. Ibu bisa terpapar saat proses persalinan sehingga terjadi infeksi pada rahim dan pusar bayi yang baru lahir.

Pemberian:

Sebetulnya, seorang wanita selama usia anak sudah mendapatkan vaksin ini sebanyak 3 kali di usia bayi dan 2 kali di usia sekolah dasar. Pada ibu, pemberian TT dilakukan biasanya sewaktu ibu mau menikah. Jika ibu belum pernah mendapatkan vaksinasi ini, berarti saat hamil harus memperoleh dua kali suntikan ini dengan jarak satu bulan. Yang penting, 2 bulan sebelum melahirkan, imunisasi ini sudah lengkap.

Efek Samping:

Antara lain demam ringan, agak nyeri, dan sedikit bengkak pada daerah bekas suntikan.

* Hepatitis B

Imunisasi ini diberikan kepada wanita hamil yang berisiko tinggi terkena hepatitis B dan juga yang hasil tes terhadap virus hepatitisnya negatif. Penyakit hepatitis B dapat ditularkan lewat transfusi darah, hubungan seksual maupun alat suntik. Penyakit ini berisiko untuk terjadinya kanker hati/sirosis. Kandungan vaksin hepatitis B dari bahan rekombinan yaitu vaksin yang dibuat dengan rekayasa genetika sehingga menyerupai virus hepatitis B. Vaksin ini dianggap tak membahayakan bagi ibu hamil dan janinnya.

Manfaat:

Melindungi ibu dan bayinya dari penyakit infeksi sebelum maupun setelah persalinan.

Pemberian:

Umumnya, pemberian vaksin ini masih dilakukan secara privat. Artinya, belum secara rutin diberikan pada semua ibu hamil seperti halnya vaksin tetanus. Jadi, dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri yang menginginkan dan juga atas saran dari dokter kandungannya. Pemberiannya dilakukan pada usia kehamilan bulan pertama, kedua dan keenam. Ibu hamil diperiksa kadar HbsAg dan Hbs-nya, yaitu reaksi antigen-antibodi. Jika positif kadar HbsAg dan Hbs-nya, ibu tak perlu diimunisasi lagi karena sudah punya zat antibodi atau kekebalannya terhadap hepatitis B. Hanya perlu diperhatikan saat bayinya lahir, dalam waktu 24 jam bayi tersebut harus sudah mendapatkan imunisasi hepatitis B.

Efek Samping:

Bisa timbul demam dan rasa nyeri pada daerah bekas suntikan.

* Influenza

Di Indonesia kejadian influenza sering ditemui. Penyebabnya virus influenza dan virus ini banyak sekali strain-nya. Bahan vaksin ini dari virus yang sudah dimatikan. Jadi, aman diberikan pada ibu hamil.

Manfaat:

Pemberian imunisasi ini bukan berarti ibu tak akan terkena influenza lagi, melainkan gejala yang didapatnya ringan.

Pemberian:

Dilakukan pada trimester kedua atau ketiga. Hindari pemberian pada trimester pertama, mengingat risiko umum yang mungkin terjadi di trimester pertama, seperti keguguran dan lainnya.

Efek Samping:

Antara lain ada sedikit demam, kemerahan dan agak bengkak di daerah suntikan dan akan menghilang sendirinya dalam waktu dua hari.

* Meningococcal

Bahan kandungan vaksinnya dari bakteri yang sudah mati/tak aktif lagi. Meski awalnya belum terbukti aman, namun dari penelitian baru-baru ini dinyatakan aman untuk ibu hamil.

Manfaat:

Mencegah infeksi meningitis atau radang selaput otak, yang disebabkan bakteri.

Pemberian:

Sebaiknya setelah trimester pertama. Pemberian imunisasi ini juga boleh diberikan bagi ibu hamil yang akan bepergian ke daerah yang epidemik dan endemik meningitis seperti Afrika. Jadi, ibu hamil yang akan pergi haji boleh mendapatkan imunisasi ini daripada terkena meningitis.

VAKSIN YANG HARUS DIHINDARI

Lima vaksin berikut ini tak boleh diberikan pada ibu hamil karena bisa berpengaruh pada janin sehingga mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur atau lahir cacat.

1. Measles, Mumps, Rubella (MMR)

Untuk mencegah penyakit infeksi demam, gondongan dan campak Jerman. Pemberiannya dilakukan pada masa anak-anak setelah usia 15 bulan dan kemudian diulang di masa remaja.

Wanita yang belum diimunisasi MMR atau dalam tubuhnya belum memiliki zat kebal terhadap rubella, maka perlu divaksinasi MMR. Bahan vaksin ini adalah virus aktif. Maka itu, setelah diimunisasi, dalam waktu 3 bulan, ibu tak dibolehkan hamil karena virusnya masih ada dan bereaksi untuk membentuk zat kekebalan, sehingga dikhawatirkan dapat membahayakan janin. Jadi, waktu yang paling baik untuk imunisasi adalah tiga bulan sebelum kehamilan.

Jika ibu sudah punya zat kekebalan terhadap rubella atau kadar antibodi IgG-nya positif, maka ibu hamil tak perlu diimunisasi lagi.

Efek samping suntikan ini antara lain timbul ruam yang tidak meluas, agak bengkak sekitar kelenjar leher dan pipi, rasa nyeri dan kaku sekitar 1-2 minggu setelah vaksinasi.

2. Varisela

Untuk melindungi tubuh dari cacar air yang disebabkan oleh virus. Satu bulan setelah diimunisasi, ibu baru dibolehkan hamil. Vaksinasi ini dihindari pada ibu hamil karena bahan vaksinnya merupakan virus aktif dan dikhawatirkan berpotensi memengaruhi janin. Imunisasi ini belum terbukti aman untuk ibu hamil. Efek samping imunisasi ini yaitu demam rasa nyeri dan kemerahan di daerah suntikan, ruam dan benjolan kecil sampai 3 minggu setelah vaksinasi.

3. Hepatitis A

Bahannya terbuat dari virus yang aktif. Keamanannya bagi ibu hamil belum dapat dipastikan, maka itu imunisasi ini dihindari. Wanita yang berisiko terkena infeksi ini harus mengonsultasikan risiko dan manfaat imunisasi ini dengan dokter. Efek samping imunisasi ini antara lain; rasa nyeri dan kemerahan di daerah bekas suntikan, sakit kepala, pegal dan ada ditemui beberapa reaksi alergi.

4. Polio

Untuk mencegah infeksi polio. Ada dua jenis vaksin polio yaitu yang diberikan secara oral dan suntikan. Vaksin oral mengandung bahan virus yang aktif, sementara vaksin suntikan mengandung bahan virus yang dilemahkan. Vaksin ini tidak direkomendasikan untuk wanita hamil.

Vaksin polio yang diberikan secara oral tak ada efek sampingnya. Sedangkan yang diberikan secara suntikan dapat menimbulkan kemerahan dan rasa tak nyaman di daerah bekas suntikan.

5. Pneumococcal

Untuk mencegah risiko infeksi yang disebabkan bakteri streptococcus pneumoniae, yaitu penyebab dari penyakit pneumonia, meningitis dan bacteremia. Hanya saja keamanan vaksin ini untuk ibu hamil belum dievaluasi. Jadi, bila akan diberikan pada wanita yang memang berisiko terkena penyakit tersebut, harus dilakukan sebelum hamil dan tidak pada masa kehamilan.

Dedeh Kurniasih. Foto: Dok. nakita




Yang tulisan warna biru muda, itulah efek dari suntik TT, tapi aq masih engga yakin, takut juga...Hiks...abisnya gatel dan agak bengkak siiiyy....
NB: ini aku tambahkan pada tanggal 12 nov 08, 3 hari setelah kejadian suntik menyuntik TT, Alhamdulillah, ternyata bengkak dan gatal yang di bagian badanku yang abis di duntik itu, udah ilang.......dan engga sakit lagi. Baru menyadarinya tadi pagi pas tahajud...wehehhehe...udah parno aja yha, sekarang udah kebukti kok, mang itu efek dari suntik TT 2.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments: